Yono menilai indirect offset bukan sesuatu yang sepenuhnya keliru. Namun, apabila porsinya terlalu dominan, manfaat teknologi yang seharusnya diperoleh dari produk alutsista yang dibeli berpotensi berkurang.
Dalam pengadaan kapal perang, peluang direct offset dapat diarahkan pada desain kapal, sistem elektronika pertahanan, combat management system (CMS), integrasi berbagai subsistem, serta kemampuan engineering dan produksi.
Menurut Alman, penguasaan elektronika pertahanan menjadi salah satu pekerjaan rumah penting karena sistem tersebut merupakan bagian dari kemampuan tempur kapal perang modern.
Yono menambahkan, Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun platform kapal. Tantangan yang lebih besar berada pada aspek “what’s inside”, yakni teknologi dan sistem yang membuat kapal tersebut menjadi kapal perang dengan kemampuan tempur.
Karena itu, program offset PPA maupun pengadaan kapal perang berikutnya perlu ditempatkan dalam peta jalan jangka panjang industri pertahanan.
Penguasaan teknologi, menurut dia, tidak dapat dituntaskan dalam satu periode pemerintahan. Pengalaman pengembangan industri pesawat terbang menunjukkan pembangunan kemampuan teknologi membutuhkan konsistensi, investasi sumber daya manusia, laboratorium, sertifikasi, serta kesempatan untuk menghasilkan produk secara berkelanjutan.
Dengan demikian, pembelian PPA Italia tidak hanya perlu dilihat sebagai upaya menambah jumlah kapal perang TNI AL, tetapi juga sebagai peluang membangun kemampuan industri pertahanan Indonesia.








